Rabu, 03 Januari 2018

“PENTINGNYA BERSYUKUR ATAS NIKMAT YANG TELAH ALLAH BERIKAN KEPADA HAMBA-NYA”



ABSTRAK

          Syukur termasuk bagian dari ajaran Islam tentang cara berterimakasih yang penting dan sangat diperhatikan di mata Allah sekaligus juga bagi manusia. Dalam studi Al-Qur’an, syukur merupakan lawan dari kufur. Kufur dimaknai menutup diri, sedangkan syukur diarttikan membuka atau mengakui diri. Efek positif syukur bisa membuat seorang manusia yang sedang dilanda kesusahan menjadi penuh keringanan dan mendapat kenikmatan dalam hidupnya. Nikmat Allah yang diberikan kepada kita tidak terhitung dan tidak terbatas, nikmat-nikmat itu datang silih berganti baik pada waktu siang atau malam dan nikmat yang paling besar yang diberikan oleh Allah kepada hambaNya adalah nikmat mendapat hidayah agama Islam. Tetapi dalam praktiknya kebanyakan manusia belum bisa mengamalkan secara maksimal pentingnya suatu ajaran tentang mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Hal tersebut bisa terjadi karenanya kurangnya pemahaman dan cenderung tekstual ketimbang kontekstual. Oleh karena itu tulisan ini lebih memfokuskan pada pembahasan tentang syukur atas nikmat Allah swt dalam Al-Qur’an.



            [That included a part of the teachings of Islam on how to thank the important and is considered in the eyes of Allah, as well as for humans. In study of al-Qur’an, gratefully is the opposite of Kufur. Kufur intrepeted as exclusive, where as gratefully acknowledge themselves or inclusive. The positive effect of gratefully can make a man who was hit by distress to be full of breaks and gets pleasure in his life. Scrumptious Allah given to human beings to be counted and are not limited, the pleasure it came and went well in the afternoon or night and the biggest pleasure given to mani s good to get’s Hidayah of Islam. But in practice most people can not apply to the fullest the importance of a school about ingratitude have Allah gave us. This can duet o lack of understanding and tend to textual than contextual. Therefore this is more focused on the discussion about gratitude for the blessings of Allah swt in the al-Qur’an.]


Kata Kunci :

Syukur dan Nikmat

Pendahuluan

“Know that thankfulness is from the highest of stations, and it is higher than patience, and fear and detachment of the world”.

-Imam al-Ghazali-

            Manusia tidak akan pernah merasa cukup karena manusia bukanlah makhluk yang sempurna, dari tidak sempurnaan itu manusia harus mensyukuri terhadap apa yang telah ia miliki, karena orang lain belum tentu memilikinya. Di zaman yang serba modern ini banyak sekali orang yang tidak merasa puas atau merasa cukup baik dalam segi harta maupun jabatan. Banyak orang yang hanya memikirkan hal duniawi saja, sedang mereka lupa akan hal akhirat. Dalam konteks ini, problematika syukur yang dialami dan dirasakan manusia menjadi penting dicermati kembali dalam upaya bersungguh-sungguh untuk menuju jalan lurus Allah. Allah adalah tujuan hidup setiap ciptaan-Nya. Artinya, ekspresi syukur seperti apa yang telah dilakukan manusia, apakah sejalan dengan perintah-Nya atau belum. Rasanya, syukur disini tentu selalu dimulai sekaligus dipengaruhi oleh epistomologi kesadaran akal pikiran manusia sekaligus hati perasaannya yang berpengaruh dalam praktik bahasa agama setiap pribadi manusia.[1] Dari sinilah, perbuatan dan pola bersyukur akan tampak. Pembacaan sekaligus penafsiran kitab suci al-Qur’an tentu saja memerlukan metode, pendekatan dan metodologi tertenty sesuai dengan tujuan dalam praktik kehidupan sehari-hari.[2] Segala sesuatu yang terdapat di bumi ini adalah pemberian oleh Sang Maha Pencipta. Pemberian yang Allah swt meliputi berbagai aspek di kehidupan, salah satu contohnya adalah nikmat. Nikmat dalam bahasa Arab memiliki arti kebaikan, keenakan, dan semua rasa bahagia. Hal-hal yang bisa dirasakan datangnya suatu nikmat ialah seperti nikmat sehat, nikmat memiliki kepandaian, nikmat diberikan kemudahan, dan lainnya. Allah berfirman dalam surat An-Nahl : 3 yang artinya “Dan tidak ada kenikmatan yang ada pada kalian kecuali datangnya dari Allah” ini merupakan dalih yang tegas dan jelas dimana segala nikmat itu datangnya dari Allah. Oleh sebab itu jika kita diberikan kesehatan, kepandaian, kemudahan dan segala bentuk kenikmatan lainnya sudah sepatutnya kita sebagai penikmatnya  harus memiliki sifat bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. Bersyukur merupakan suatu sifat yang wajib dimiliki oleh setiap hamba Allah karena dengan sikap ini seseorang bisa mengingatkan untuk berterimakasih kepada pemberi nikmat (Allah) dan perantara nikmat yang diperolehnya (manusia).

Dimafhumi bahwa problematika pemahaman syukur bukan sesuatu yang baru dibahas. Namun, ibarat seumur manusia, bahasan syukur telah ada mulai dari adanya manusia hingga hari ini dan nanti. Informasi ini bisa didapat dari berbagai sumber, khususnya dalam al-Qur’an yang secara nyata menjelaskan dan membuktikan kepada semua manusia tentang syukur dari satu masa ke masa yang lain. Intinya adalah syukur adalah kunci kebahagiaan dan kesuksesan bila setiap manusia mampu mengamalkannya secara maksimal.[3]

Pengertian Syukur

          Kata kunci dari syukur adalah suka berterimakasih, tahu diri, tidak mau sombong, dan tidak boleh lupa Allah. Bagi seorang Muslim kunci syukur itu adalah ingat Allah. Kita ada karena Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. Di sinilah, syukur seringkali disamakan dengan ungkapan rasa “terima kasih” dan segala pujian hanya untuk Allah semata. Semakin sering bersyukur dan berterima kasih, kita akan semakin baik, tenteram dan bahagia.

Syukur juga berarti menampakkan sesuatu kepermukaan. Dalam hal ini menampakkan nikmat Allah. Sedangkan menurut istilah syara’, syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang dikaruniakan Allah yang disertai dengan kedudukan kepada-Nya dan mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan tuntunan dan kehendak Allah.

Dalam hal ini, hakikat syukur adalah “menampakkan nikmat,” dan hakikat kekufuran adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya, juga menyebut-nyebut nikmat dan pemberinya dengan lidah.

Allah berfirman dalam Al-quran:



وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ


Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". ( Q.S Ibrahim,14: 7)



Apabila manusia mau mensyukuri akan nikmat Allah SWT., maka Allah akan menambah nikmat-Nya, dan apabila manusia itu tidak mau berterima kasih kepada nikmat-Nya, maka sesungguhnya Allah akan mencabut dan juga mengurangi nikmat dari manusia tersebut sebagai hukuman atas kekufurannya.

Bersyukur itu terbagi menjadi tiga bagian, yang diantaranya:

1. Bersyukur dengan lisan, maksudnya ialah mengakui segala kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah Swt dengan sikap merendahkan diri.

2. Bersyukur dengan badan, yakni bersikap selalu sepakat serta melayani (mengabdi) kepada Allah Swt.

3. Bersyukur dengan hati, yaitu mengasingkan diri di hadapan Allah Swt. dengan cara konsisten menjaga dzikir akan  keagungan dan kebesaran Allah Swt.

Sering sekali kita sebagai manusia lalai dalam mensyukuri nikmat Allah dan tidak menyadari bahwa nilai suatu nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada dirinya. Maka dia baru terasa apabila nikmat itu dicabut dari dirinya, maka dia barulah merasakan dan menyadarinya, contohnya adalah nikmat berupa kesehatan jasmani dan juga kesehatan rohani.







Dalam firman Allah:

 

وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ


Artinya: "Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (An-Naml ayat 40)



Cara Bersyukur

Ada banyak cara yang dapat dilakukan manusia untuk mensyukuri nikmat Allah swt. Secara garis besar, mensyukuri nikmat ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

1. Syukur dengan Hati


 


Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh, baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah SWT. Allah SWT berfirman:

Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah." (QS. An-Nahl : 53)

Syukur dengan hati dapat mengantar seseorang untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini akan melahirkan betapa besarnya kemurahan da kasih sayang Allah sehingga terucap kalimat tsana’ (pujian) kepada-Nya.

2. Syukur dengan Lisan


 


Ketika hati seseorang sangat yakin bahwa segala nikmat yang ia peroleh bersumber dari Allah, spontan ia akan mengucapkan “Alhamdulillah" (segala puji bagi Allah) Wasysyukru lillah (dan segala bentuk syukur juga milik Allah).

Karenanya, apabila ia memperoleh nikmat dari seseorang, lisannya tetap memuji Allah SWT. Sebab ia yakin dan sadar bahwa orang tersebut hanyalah perantara yang Allah SWT kehendaki untuk “menyampaikan" nikmat itu kepadanya.

Al pada kalimat Alhamdulillah berfungsi sebagi istighraq, yang mengandung arti keseluruhan. Sehingga kata alhamdulillah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah SWT, bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya.

Oleh karena itu, kita harus mengembalikan segala pujian kepada Allah SWT. Pada saat kita memuji seseorang karena kebaikannya, hakikat pujian tersebut harus ditujukan kepada Allah SWT. Sebab, Allah adalah pemilik segala kebaikan.





3. Syukur dengan Perbuatan


 


Syukur dengan perbuatan mengandung arti bahwa segala nikmat dan kebaikan yang kita terima harus dipergunakan di jalan yang diridhoi-Nya. Misalnya untuk beribadah kepada Allah, membantu orang lain dari kesulitan, dan perbuatan baik lainnya. Nikmat Allah harus kita pergunakan secara proporsional dan tidak berlebihan untuk berbuat kebaikan. Rasulullah saw menjelaskan bahwa Allah sangat senang melihat nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya Allah senang melihat atsar (bekas/wujud) nikmat-Nya pada hamba-Nya." [HR. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr]



Maksud dari hadits di atas adalah bahwa Allah menyukai hamba yang menampakkan dan mengakui segala nikmat yang dianugerahkan kepadanya. Misalnya, orang yang kaya hendaknya menampakkan hartanya untuk zakat, sedekah dan sejenisnya. Orang yang berilmu menampakkan ilmunya dengan mengajarkannya kepada sesama manusia, memberi nasihat dan sebagainya.

Maksud menampakkan di sini bukanlah pamer, namun sebagai wujud syukur yang didasaari karena-Nya. Allah SWT berfirman:

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)."(QS. Adh-Dhuha : 11)



4. Menjaga Nikmat dari Kerusakan


 


Ketika nikmat dan karunia didapatkan, cobalah untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Setelah itu, usahakan untuk menjaga nikmat itu dari kerusakan. Misalnya, ketika kita dianugerahi nikmat kesehatan, kewajiban kita adalah menjaga tubuh untuk tetap sehat dan bugar agar terhindar dari sakit.

Demikian pula dengan halnya dengan nikmat iman dan Islam. Kita wajib menjaganya dari “kepunahan" yang disebabkan pengingkaran, pemurtadan dan lemahnya iman. Untuk itu, kita harus senantiasa memupuk iman dan Islam kita dengan sholat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis-majelis taklim, berdzikir dan berdoa.

Kita pun harus membentengi diri dari perbuatan yang merusak iman seperti munafik, ingkar dan kemungkaran. Intinya setiap nikmat yang Allah berikan harus dijaga dengan sebaik-baiknya.

Nikmat

Dalam bersyukur ada sesuatu yang penting yaitu mengenali nikmat Allah. Sesungguhnya mengetahui dan mengenal nikmat, merupakan di antara rukun terbesar dalam bersyukur. Karena tidak mungkin seseorang dapat bersyukur, jika dia merasa tidak mendapatkan nikmat. Maka mengenal nikmat merupakan jalan untuk mengenal Sang Pemberi Nikmat, dan kalau seseorang tahu siapa yang memberikan nikmat, maka dia akan mencintainya, sehingga cinta itu akan melahirkan kesyukuran dan terima kasih.

Nikmat Allah tidaklah terbatas pada makanan dan minuman belaka, namun seluruh gerak dan desah nafas kita adalah nikmat yang tak terhingga yang tidak kita ketahui nilainya. Abu Darda’ mengatakan, “Barang siapa yang tidak mengetahui nikmat Allah selain makan dan minumnya, maka berarti pengetahuannya picik dan azabnya telah menimpa."

Maka dikatakan, bahwa syukur yang bersifat umum adalah syukur terhadap nikmat makanan, minuman, pakaian, perumahan, kesehatan dan kekuatan. Dan syukur yang bersifat khusus adalah syukur atas tauhid, keimanan dan kekuatan hati.

Nikmat secara etimologis berasal dari bahasa arab yang berarti segala kebaikan, keenakan, dan semua rasa kebahagiaan. Sesuatu yang bermanfaat di dunia dan akhirat seperti ilmu dan akhlak mulia.

Nikmat Allah amatlah banyak, tidak terhingga dan tak berbilang, namun ada di antaranya yang sangat besar dan pokok yang perlu untuk kita ketahui, yaitu:

·         Nikmat Islam dan Iman



Demi Allah, inilah nikmat yang terbesar, di mana Allah menjadikan kita sebagai muslim yang bertauhid, bukan Yahudi yang dimurkai dan Nashara yang tersesat, yang mengatakan Allah mempunyai anak, yakni Uzair Ibnullah dan Isa Ibnullah, Maha Suci Allah dari sifat yang tak layak ini.

Ibnu Uyainah (Sufyan) berkata, “Tidak ada satu nikmat pun dari Allah untuk hamba-Nya yang lebih utama, daripada diajarkannya kalimat la ilaha illAllah."

·         Penangguhan dan Tutup Dosa



Ini juga merupakan nikmat yang sangat besar, karena jika setiap kita melakukan dosa lalu Allah langsung membalasnya, maka tentu seluruh alam ini telah binasa. Akan tetapi Allah memberikan kesempatan dan penangguhan kepada kita untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Allah SWT berfirman,

Dan (Dia) menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin" (QS Luqman : 20)

Berkata Muqatil, “Adapun (nikmat) yang lahir (nampak) adalah Islam, sedangkan yang batin adalah tutup dari Allah atas kemaksiatan kalian.”



·         Nikmat Peringatan



Peringatan adalah termasuk nikmat yang besar, dan ini merupakan salah satu ketelitian Allah agar hamba-Nya tidak terlena. Tanpa kita duga terkadang ada seseorang yang datang meminta makan atau sesuatu kepada kita, yang dengan perantaraan orang yang sedang kesusahan tersebut akan membuat kita ingat terhadap nikmat yang diberikan Allah.

·         Terbukanya Pintu Taubat



Merupakan nikmat yang sangat besar dari Allah adalah terbukanya pintu taubat, sebanyak apa pun dosa dan kemaksiatan seorang hamba. Selagi nafas belum sampai tenggorokan dan selagi matahari belum terbit dari barat, maka pintu taubat selalu terbentang untuk dimasuki oleh siapa saja.

·         Menjadi Orang Terpilih



Nikmat ini hanya dapat dirasakan oleh orang yang beristiqamah, wara’, dan selalu menghadapkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala serta tidak menoleh kepada yang lain. Maka Allah menguatkan hatinya ketika fitnah tersebar di sana-sini, meneguhkannya di atas ketaatan ketika orang berpaling darinya.

Allah hiasi hatinya dengan iman dan dijadikan cinta kepadanya, lalu dia benci terhadap kefasikan dan kemaksiatan. Ini termasuk nikmat paling besar yang harus disyukuri dengan sepenuhnya dan dengan sanjungan sebanyak banyaknya.

·         Kesehatan, Kesejahteraan dan Keselamatan Anggota Badan



Kesehatan, sebagaimana dikata-kan Abu Darda’ Radhiallaahu anhu adalah ibarat raja. Sementara itu Salman al Farisi mengisahkan tentang seorang yang diberi harta melimpah lalu kenikmatan tersebut dicabut, sehingga dia jatuh miskin, namun orang tersebut justru memuji Allah dan menyanjung-Nya.

Maka ada orang kaya lain yang bertanya, “Aku tak tahu, atas apa engkau memuji Allah? Dia menjawab, “Aku memuji-Nya atas sesuatu yang andaikan aku diberi seluruh yang diberikan kepada manusia, maka aku tidak mau menukarnya. Si kaya bertanya, “Apa itu? Dia menjawab, “Apakah engkau tidak memperhatikan penglihatanmu, lisanmu, kedua tangan dan kakimu (kesehatannya)?

·         Nikmat Harta (Makan, Minum dan Pakaian)



Bakar al Muzani berkata, “Demi Allah aku tidak tahu, mana di antara dua nikmat yang lebih utama atasku dan kalian, apakah nikmat ketika masuk (menelan) ataukah ketika keluar dari kita (membuang)? Berkata Al-Hasan, “Itu adalah kenikmatan makan.”

Aisyah Radhiallaahu anha berkata, “Tidaklah seorang hamba yang meminum air bening, lalu masuk perut dengan lancar tanpa ada gangguan dan keluar lagi dengan lancar, kecuali wajib baginya bersyukur.”

Adapun cara menyikapi nikmat yaitu:

  1. Mengakui nikmat yang diberikan dengan penuh ketundukan.
  2. Memuji yang memberi nikmat atas nikmat yang diberikannya.
  3. Cinta hati kepada yang memberi nikmat dan (tunduknya) anggota badan dengan ketaatan serta lisan dengan cara memuji dan menyanjungnya.
  4. Menyaksikan kenikmatan dan menjaga (diri dari) keharaman.
  5. Mengetahui kelemahan diri dari bersyukur.
  6. Menyandarkan nikmat tersebut kepada pemberinya dengan ketenangan.
  7. Engkau melihat dirimu orang yang tidak pantas untuk mendapatkan nikmat.
  8. Mengikat nikmat yang ada dan mencari nikmat yang tidak ada.







Kesimpulan

        Setelah mengetahui kebenaran, kesempurnaan, serta keistimewaan nikmat Allah, tidak selayaknya kita melalaikan nikmat ini begitu saja. Hendaknya kita mensyukuri nikmat ini dengan sebenar-benarnya syukur, agar Allah tidak mencabut nikmat itu dari kita. Dari beberapa ayat yang saya ambil, dapat saya simpulkan bahwa semua nikmat yang Allah berikan harus didasari dengan keimanan dan tawakkal kepada Allah. Menjalani perintah serta menjauhi larangan-Nya. Allah saja bisa menambah nikmat kepada hamba-Nya, kenapa kita sebagai hamba-Nya tidak bisa menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah.



[1] Komaruddin Hidayat, Memahami bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik (Jakarta: Paramadina, 1996), h. 89-99.
[2] Ngainun Naim, Pengantar Studi Islam (Yogyakarta: Teras, 2009), h. 10-12. Baca juga Abdul Mustaqim, Epistemologi Tafsir Kontemporer (Yogyakarta: LKiS, 2011).  
[3] Fuad Amsari, Islam Kaafah: Tantangan Sosial dan Aplikasinya di Indonesia (Jakarta: Gema Isani Press, 1995).  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar